DISQUS SHORTNAME

Monday, September 5, 2016

Seribu Tanpa Seratus



Oleh : Mohamad Abdurro’uf
Bulan Dzulhijah adalah bulan besar. Bulan di mana umat muslim seluruh dunia menuju satu tempat dan berkumpul di sana untuk beribadah kepada Allah semata. Banyak sekali amalan sunah pada rangkaian ibadah haji. Di antaranya adalah mandi untuk mabit di Muzdalifa dan mengambil tujuh kerikil dari sana, talbiah, masuk Mekah siang hari, mandi ketika masuk Mekah, masuk Masjidil Haram dari Babus Salam, tawaf Qudum, menginap di Mina, mendahulukan haji atas umrah, mengencangkan suara saat talbiah bagi pria dan masih banyak lagi.
Semua rangkaian ibadah haji adalah ta’abbudi yang merujuk pada arti bahwa rangkaian itu memang sudah wahyu tanpa bisa dimasuki ijtihad. Walau demikian, ulama selalu mencari hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya.
Dalam hal ini, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad pernah berkata dalam Risalah al-Muawanah bahwa, kita diperintah untuk melakukan ibadah-ibadah sunah, walaupun tidak tahu hikmahnya. Jangan-jangan, siapa tahu karena salah satu ibadah sunah yang kita lakukan, rida Allah turun. Kita tidak tahu dengan ibadah yang mana Allah meridai hamba-Nya. Siapa tahu saat kita melakukan ibadah kecil, Allah membarengkan rida-Nya.
Siapa yang tak kenal Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Beliau merupakan seorang alim besar pada zamannya. Pemikiran cerdasnya masih terdengar gaungnya dan menjadi rujukan sampai sekarang di penjuru dunia. Kitab dan karangannya pun masih dipelajari hingga sekarang di mana-mana.
Namun siapa sangka, dikisahkan, dengan segudang prestasi dan amal ibadah yang begitu banyaknya, rida Allah belum juga turun. Hingga sampai suatu ketika, tatkala Imam al-Ghazali sedang menulis, seekor lalat yang kehausan hinggap di wadah tintanya untuk minum. Beliau berhenti menulis dan membiarkan lalat itu minum sampai puas lalu pergi. Tak tahunya, sebab amal sunah inilah rida Allah turun untuk beliau.
Ini bukan berarti bahwa segudang amal ibadah beliau tidak perhala dan tidak ada artinya. Bukan. Namun gara-gara amal kecil yang sederhana, amal ibadah beliau seluruhnya diridai Allah. Maka hendaknya kita tidak bermalas-malasan melakukan amal sunah apapun, walaupun itu kecil.
***
Suprihatin ngiler melihat teman-temannya makan kojek. Dia sangat ingin. Rasa ingin itu menjadikan kerongkongannya basah liur. Berkali-kali ia menelan ludah. Namun harga kojek itu seribu perak. Sedangkan dia hanya punya sembilan ratus perak. Malang nian nasib Suprihatin.
Seperti ketiban duren, jatuhlah seratus perak dari langit. Klunting! Dengan semangat teramat dan kesiapan antusias, dia ambil koin seratus itu. Lalu dengan berjingkrak-jingkrak, dia datangi abang kojek dan menyodorkan uang seribu perak yang baru dia miliki. Kini, seplastik kojek ada di genggamannya dan siap untuk disantap.
Sembilan ratus bukan berarti tiada harganya. Namun dengan seratus, uang sembilan ratus menjadi seribu, hingga tecapailah sebuah keinginan. Maka, seratus ini sangat istimewa, walau kecil nilainya. Sebab dialah yang menjadikan sembilan ratus menjadi seribu. Masihkah kau meragukan kekuatan seratus?

No comments:

Post a Comment

item