DISQUS SHORTNAME

Monday, August 29, 2016

MEREVITALISASI SEMANGAT NASIONALISME SANTRI



Oleh : M. Imam Rohmatullah
Berbagai event digelar oleh rakyat Indonesia untuk menyemarakan kemerdekaan RI yang ke 71 ini, mulai peringatan upacara, pengajian, selamatan, lomba-lomba agustusan, pemasangan atribut sampai tulisan-tulisan kemerdekaan. Hal itu sudah menjadi agenda tahunan yang mewarnai momentum agustusan. Setidaknya itu dilakukan untuk membuktikan semangat nasionalisme dan juga untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk meraih kedaulatan bangsa Indonesia.
Nasionalisme merupakan ungkapan akan kecintaan sebuah rakyat kepada tanah airnya, ia merupakan salah satu kategori Fanatisme lahiriyyah yang di miliki oleh setiap manusia. Para hukama' mengklasifikasikan rasa fanatisme manusia menjadi 3, fanatisme idieologi (ashobiyyah madzhabiyyah), fanatisme kesukuan (ashobiyyah qobiliyyah), fanatisme tanah air atau nasionalisme (ashobiyyah wathoniyyah).
Kita harus sadari bahwa nasionalisme adalah karakter fithriyyah yang bisa dimiliki oleh setiap manusia, entah latar belakang sosial mereka sebagai seorang pejabat, saudagar, kiai, santri, rakyat jelata dan lain sebagainya. Sebenarnya semangat nasionalisme dikalangan pesantren  sudah ditanamkan oleh para kiai sejak zaman penjajahan dahulu, terbukti betapa banyak nyawa kiai dan santri yang gugur demi merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah, bagaimana seorang mbah Hasyim As'ary mengeluarkan fatwa jihadnya melawan penjajah ketika mendengar tentara kolonial berusaha menduduki kedaulatan Indonesia di Surabaya, hal itu tak lain untuk membangkitkan semangat nasionalisme untuk membela kedaulatan negara dan agama, karna fanatisme dan nasionalisme merupakan modal utama meraih kedaulatan bangsa dan negara. Sebagaimana yang disampaikan pakar sosialogi Islam Ibnu Kholdun di dalam Muqoddimahnya,  "Kedaulatan sebuah negara hanya dapat diraih oleh rasa nasionalisme yang tinggi (ashobiyyah wathoniyyah)”. Itu hanya sekelumit gambaran tentang jiwa nasionalisme kaum pesantren, betapa besar jasa para kiai dan santri sehingga harus mempertaruhakan nyawa sekalipun untuk membela tanah air.
Semoga peringatan 71 tahun kemerdekaan Indonesia ini menjadi momentum untuk membangkitkan kembali nasionalisme yang akhir-akhir ini mulai redup  dikalangan pesantren,. Sebagai bentuk kecintaan dan loyalitas kita terhadap tanah air tempat kita berpijak, yang tak lain merupakan salah satu instrument manusia mengarungi hidup, sebagaimana ungkapan Sayyidina Ali R.A : "Ammartu Ad-Dunya Bi Hubbil Awthon". Dan juga  sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, sehingga kita bisa menjalani hidup damai, tentram, bebas dalam melakukan setiap aktifitas keagamaan maupun sosial, yang tak lain merupakan haq setiap manusia (haqqul hurryiah).
Marilah semangat nasionalisme ini kita ekspresikan dengan cara kita masing-masing. Jika seorang tentara misalnya dengan menjaga kedaulatan negara, cara pejabat pemerintah dengan mensejahterakan rakyatnya, cara petani dengan menanam padi agar pangan tetap terjamin, cara santri dengan memompa semangat belajar ilmu agama yang tak lain merupakan salah satu pilar negara sebagai pedoman hidup rakyatnya dan lain sebagainya. Jika setiap elemen bangsa mengisinya dengan porsinya masing-masing, maka bisa terwujudlah sebuah baldatun thoyyibun wa rabbun ghofur seperti yang dicata-citakan oleh para kiai. Semua itu hanya dapat diraih dengan rasa nasionalisme, Sebagaiamana ungkapan seorang penyair kenamaan mesir Syauwqi Bik : ”hubbul wathon intihadul himam".
Semoga bermanfaat.


No comments:

Post a Comment

item