DISQUS SHORTNAME

Tuesday, August 30, 2016

Logika dan Alogika Jatuh Cinta



 Oleh : Mohamad Abdurro’uf
Aku, teman-temanku dan pemuda seusiaku, sekarang, dari berbagai arah dan cara, disibukkan dengan cinta-cintaan. Bukan cinta sungguhan. Hanya dinamai dengan cinta agar terkesan halus dan suci. Sungguh cerdik mencari nama, walaupun berbuah syahwat. Sehingga di hari lahir Indonesia merdeka yang ke-71, lebih sibuk membuat masalah daripada menyumbang prestasi.
Mulai dari berita kabar, acara televisi, media sosial, pergaulan, sampai tongkrongan-tongkrongan simpang jalan, kita temui kasus-kasus pelecehan seksual. Paham barat terus menggiring dari berbagai arah agar ideologi ketimuran Indonesia mengikuti mereka. Maka beberapa dari kita, yang mengaku modern dan bukan, ikut-ikutan terkena demam barat. Bukan bermaksud apa-apa. Melainkan untuk pengingat bahwa Indonesia kita masih punya segudang pekerjaan rumah.
Masalah keindonesiaan seperti ini sering mengganggu kami, Santri Garuda yang sedang belajar di Hadhramaut. Sehingga, obrolan kami saat sarapan, di antrean mandi sampai diskusi ilmiah, diramaikan dengan topik ini. Kami sering mengadukan permasalahan seperti ini kepada para guru dan syekh yang ada di sini, mulai dari Habib Umar bin Hafidz, Dekan Fakultas sampai halakah di masjid-masjid. Kami juga kaum muda. Sangat paham betul apa yang dirasakan teman-teman muda kami di Indonesia.
Di sisi lain, di Hadhramaut, wanita sangat dihargai. Mereka terjaga dari pandangan nakal laki-laki. Mereka bekerja dan beraktivitas. Namun kehormatan mereka terjaga. Tidak ada undang-undang yang mengaturnya. Hanya syariat dan budaya yang menjaganya.
Warga setempat tidak memfokuskan pembicaraan seputar gender. Mereka lebih senang membicarakan nama satu orang yang sangat mereka cintai. Mereka memanggil-mangil namanya dari salat subuh sampai zikir malam. Namanya adalah Muhammad bin Abdullah suku Quraisy.
Awal datang kesini, kami keheranan dengan cinta model ini. Mereka selalu mengucap salawat. Saat membagi sarapan di dapur umum, membagi gohwah, memutar bukhur, membangunkan orang, majlis obrolan, bertukar sapa di gang jalan, apalagi pengajian keislaman. Perayaan hari lahir Nabi Muhammad jauh lebih meriah dibanding perayaan Idul Fitri dan Hari Kemerdekaan Yaman.
Pertanyaan besarku: bagaimana mereka, dan insya Allah kita, bisa mencintai orang yang sama sekali belum pernah ketemu? Logika mana yang mengatur cinta ini. Kami yang berasal dari Indonesia yang kalian tahu latar belakangnya seperti itu, harus menukar logika untuk memahami cinta ini.
Dalam majlis tasawuf, aku beranikan diri menanyakan ini kepada al-Habib Muhammad bin Hamid al-Idrus. Di akhir majlis kami sepakat bahwa, “Hakikat cinta tidak pernah menyaratkan pertemuan. Bahkan kau bisa saja jatuh hati sampai mabuk pada Yang-Tak-Berjasad-Tak-Berupa. Cinta mana yang menyaratkan itu semua? Maka ketahuilah, anakku, itu bukan hakikat cinta. Namai ia dengan syahwat dunia”.
***
Di cafetaria Bassam Mukalla, dua orang bapak sudah saling mengacungkan belati lengkungnya satu sama lain. Nampaknya musyawarah penuh emosi gagal menemukan solusi. Mata mereka bersinar galak menyala merah. Belati lengkung sudah siap menerima tugas menebas urat. Tiba-tiba, sebuah mantra sakti mendinginkan mereka semua. Seperti air meredam pedang tempa yang masih panas. Mantra sakti itu, “Shollu ala Muhammad! Shollu ala Muhammad!
Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

item