DISQUS SHORTNAME

Saturday, August 27, 2016

KAWASAN BEBAS BAHASA


Oleh: Mohamad Abdurro’uf

Awal mulanya aku dibuat mikir dengan cara talaqqi Habib Umar al-Attas yang buta dengan muridnya, Habib Abdullah al-Haddad yang juga buta. Mereka sorogan dengan hanya duduk berhadapan, diam, lalu si murid begitu saja manggut-manggut paham dengan apa yang diajarkan. Aku juga bingung pada batu, pepohonan dan makhluk lainnya yang sedang bertasbih. Suaranya mana?
Mereka pasti menggunakan bahasa. Baik antara Habib Umar-Abdullah, begitu pula para batu, pepohonan dan makhluk lainnya. Mereka wajib menggunakan bahasa dalam interaksi itu. Lazimnya, seorang guru, dalam kasus ini berarti Habib Umar al-Attas, akan mengajar dengan menggunakan bahasa. Apapun bahasanya, lisan, tulisan maupun isyarat.
Namun beliau tidak menggunakan satupun dari ketiga cara berbahasa. Maka aku curiga, apakah transfer ilmu di antara mereka seperti software copy-paste? Atau jangan-jangan, ada jenis bahasa lain—selaing lisan, tulisan dan isyarat—yang belum kuketahui.
Maka aku mencari dalam kamus bahasa-bahasa yang aku tahu. Kuaduk-aduk halaman-halaman tebal. Namun tak kutemui. Bingung dan mampet. Belum lagi cara bertasbih makhluk-makhluk kepada Allah. Mereka butuh bahasa untuk mengungkapkan tasbih yang ada dalam dirinya. Dari kebingungan ini, aku meneliti dan menduga-duga: Adakah kawasan bebas bahasa?
***
Begitulah kira-kira ilustrasi kebingungan kita saat menerima kisah para wali dan ayat-ayat yang di luar ranah akal. Maka langkah pertama adalah kita percaya.
Bulan Ramadan lalu, 1437 H, aku bersama duapuluhan mahasiswa Al-Ahgaff ikut kilatan Al-Quran di Hauthoh, satu jam dari Tarim. Selepas mengaji kitab Adab Suluk al-Murid milik Habib Abdullah al-Haddad, waktu sedang kosong menunggu berbuka. Maka aku iseng, aku mengobrol dengan pikiranku sendiri. “Kita kan sudah hidup di dunia ini sekian lama. Kira-kira, adakah tempat bebas bahasa dimana kau tak perlu berbahasa untuk memahamkan orang?” kataku pada pikiranku.
“Ada,” jawab pikiranku. “Di sini! Di dunia pikiranmu. Antara aku dan kau. Kamu dan pikiranmu. Kita berdua tidak perlu berbahasa untuk saling memahamkan satu sama lain. Kau hanya tinggal ngrentek saja, maka aku wush-Glodak akan paham begitu saja apa yang kau maksud, tanpa bahasa. Sederhana kan?”
Aku mengernyit. Perlahan-lahan, kegilaan ini mulai masuk akal.
“Kau bisa menggunakan bahasa apa saja yang kaumau. Bahasa Indonesia, Jawa, Cina, Arab, Prancis, Jerman dan lainnya. Saat kau menggunakan bahasa Prancis kepadaku, aku yuaakin haqqul yaqin kau sama sekali tidak bisa bahasa Prancis, tapi aku paham apapun yang kau katakan lewat bahasa Prancismu yang asal bunyi. Karena kita berdua adalah satu dan sudah sama-sama tahu. Antara kau dan pikiranmu, yang setiap saat saling berbicara. Lalu kenapa kau masih menggunakan bahasa ketika berbicara denganku?”
Maka aku paham. Begitulah kira-kira kejadian antara Habib Umar al-Attas dan Habib Abdullah al-Haddad. Demikian pula kalam tasbih makhluk-makhluk di dunia ini. Walaupun mereka tidak mengunakan bahasa, tapi mereka sudah saling tahu. Karena mereka sudah menyatu karena begitu dekatnya. Jangan-jangan, begitu juga yang terjadi antara para wali dengan Allah. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

item