DISQUS SHORTNAME

Thursday, July 21, 2016

“Zakat dalam Perspektif Islam” (Pengantar untuk Meninjau Ulang Konsep Zakat Rumusan Fuqaha)




Tarim, Hadhramaut (01/07) – Zakat merupakan salah satu mediator untuk membentuk masyarakat yang maju dan berkembang dengan terjalinnya hubungan vertikal maupun horizontal yang harmonis antara individu dengan tuhannya dan masyarakat. Namun realita yang ada menunjukkan bahwa zakat masih belum mampu menunjukkan peranannya secara maksimal sesuai tujuan penyariatannya. Hal tersebut bisa dijadikan bahan evaluasi terhadap konsep zakat, apakah telah sesuai dengan standar Islam sejak awal turunnya atau hanya menyentuh sebagian kecil haluan-haluan tersebut.

Melalui makalahnya yang berjudul : “Zakat dalam Perspektif Islam” (Pengantar untuk Meninjau Ulang Konsep Zakat Rumusan Fuqaha), Saudara Rifqi Ridlo selaku pemateri di acara “Kajian Fikih Zakat” yang diadakan oleh Lakpesdam PCI NU Yaman pada pukul 16.30 KSA, ingin mengajak para diskusan untuk lebih berani meninjau ulang konsep zakat yang berlaku sementara ini.

Didampingi Saudara Zainul Arifin Ahmad selaku moderator, Rifqi memaparkan beberapa fenomena zakat yang ada di negara-negara Islam, seperti : praktek pengumpulan dan pendistribusian zakat secara individual tanpa campur tangan aparat pemerintah yang resmi, kemiskinan yang kian lama makin melunjak, serta adanya kefanatikan terhadap etnis tertentu yang telah merubah esensi zakat menjadi bentuk kepedulian sosial semata, seperti : santunan, tunjangan, hadiah, dan lainnya yang jauh dari nilai-nilai ‘ubudiyyah.

Kemudian ia juga menampilkan secuplik fenomena zakat di masa Rasulallah dan para sahabatnya sebagai bahan evaluasi terhadap konsep zakat yang dirumuskan oleh fuqaha dalam literatur fikih mereka, seperti : pengumpulan dan pendistribusian zakat yang ditangani langsung oleh Rasul dan para sahabatnya dalam kapasitas mereka sebagai Imam umat Islam, serta tingkat kemiskinan yang semakin menurun, dan juga Sayyidina Abu Bakar pernah membentuk pasukan khusus untuk memerangi mereka yang enggan untuk mengeluarkan zakat.
Di menit berikutnya Rifqi menitikberatkan pembahasannya dalam kasus tanggung jawab dan wewenang zakat adalah di tangan negara (Imam). Ia memperkuat pendapat tersebut dengan beberapa argumen diantaranya, surat at-Taubah ayat 103 sebuah khitob dalam bentuk tunggal yang ditujukan kepada nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai seorang Imam. Ia juga menyitir komentar Imam Ibnu Hajar tentang hadits riwayat Ibnu Abbas di Shohihain : “...diambil dari orang-orang kaya mereka, kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir mereka...”. Beliau berkomentar bahwa hadits di atas merupakan dalil bahwa kewajiban dan wewenang zakat ada di tangan Imam atau penggantinya.

Adapun bukti konkret lainnya adalah ‘amaliyah nabi Muhammad dan para sahabatnya serta fatwa dari para sahabat meskipun fatwa-fatwa mereka diperselisihkan kehujjahannya, setidaknya fatwa-fatwa mereka bisa memberikan sedikit gambaran tentang realita yang ada di masa itu.

Di menit terakhir presentasinya, sang pemateri menarik sebuah konklusi dari perbandingan antara konsep zakat rumusan fuqaha dan konsep zakat di masa nabi dan para sahabat bahwasanya : konsep zakat rumusan fuqaha disesuaikan dengan sikon yang ada sekalipun adanya situasi darurat yang menuntut munculnya konsep khusus yang berbeda dengan konsep asalnya. Dan berhubung ijtihad ini muncul karena dipicu oleh situasi darurat maka masa aktifnya hanya sebatas ukuran darurat tersebut. Jika situasi telah berubah, maka wajib untuk kembali menuju hukum asal.

Akhir kata, ia menjelaskan bahwa sedikitnya makalah ini bisa dijadikan pengantar untuk membuka cakrawala baru untuk berpikir lebih mendalam tentang konsep zakat dan mengkaji lebih jauh dengan meneliti nas-nas agama, nas-nas fuqaha, serta mencari titik temu di antara kedua nas tersebut.
Kajian pun dilanjutkan dengan termin pertanyaan, kemudian diakhiri oleh Rois Syuriyah PCI NU Yaman, M. Tohirin Shodiq dengan pembacaan surat al-Fatihah dan do’a atas meninggalnya Ibu Siti Fatmah (Istri Gus Mus). Dan dilanjutkan ke acara buka bersama di apartemen sakan dakhiley ‘aidied. (Red/Maulana)

No comments:

Post a Comment

item