DISQUS SHORTNAME

Thursday, April 14, 2016

PERGESERAN PERAN KIAI

PERGESERAN PERAN KIAI
Oleh : Muhammad Istbat Qodir*


Tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita istilah Kiai, terlebih bagi yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Ketika kita mendengar istilah tersebut, maka yang terimajinasikan adalah sosok pria bersahaja berwajah teduh dan penuh kesabaran dalam mengayomi dan membimbing masayarakat, dan juga tergambar ia yang mempunyai ilmu agama yang tinggi.

Kiai merupakan tokoh yang yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia, karena mereka sendiri terlahir dari dalam masyarakat dan berkembang di dalamnya pula. Kiai sebagai salah satu angggota masyarakat memilki peranan tersendiri dalam kehidupan didalamnya sebagaimana anggota masyarakat lainnya yang memiliki peranannya masing masing.

Di antara peranan Kiai adalah sebagai penjaga moral (the moral guardian) dan sebagai guru mengaji serta pemimpin.
Namun dengan bergulirnya waktu tumbuhlah benih-benih perubahan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan Kiai sebagai salah satu anggota masyarakat itu sendiri mau tidak mau juga ikut mengalami perubahan atau pergeseran peran.

Bertolak dari ini semua, sudah selayaknya bagi para Santri yang sekaligus calon-calon Kiai untuk mengetahui apa saja peranan Kiai dan segala perubahan serta pergeseran yang dialaminya, dan juga kita harus tahu faktor dari pergeseran peran kiai tersebut, sehingga kita memiliki sedikit gambaran akan apa yang kita hadapi kedepan.

Kiai dan Peranannya:
Istilah Kiai mempunyai pengertian yang luas, biasa digunakan untuk mepersonifikasikan sebuah senjata atau benda yang dikeramatkan karena dianggap memilki kukuatan ghaib, seperti kiai selamet nama untuk kerbau “bule“ yang dikirab setiap malam 1 Syuro di Keraton Surakarta, dan Kiai Plered yang merupakan nama sebuah tombak yang diberikan oleh Jaka Tingkir kepada Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar yang dipakai untuk mengalahkan Arya Penangsang, namun istilah Kiai juga sering digunakan untuk orang yang memiliki ilmu agama yang luas serta berusaha untuk menyebarkannya dengan berdakwah dari kampung ke kampung atau menetap di suatu tempat dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dinamai pondok pesantren.

Kiai dalam artian sebagai orang yang paham agama memiliki padanan kata yang banyak, di Jawa disebut Kiai, Ajengan, Si Mbah atau Panembahan, sedangkan di Madura sering dipanggil Mak Kaeh atau Bindereh, di Sumatra sering di panggil Buya atau Tengku sedangkan di Kalimantan dan Lombok dikenal dengan istilah Tuan Guru, semua istilah ini merujuk kepada satu sosok yang dianggap memiliki ilmu agama yang mendalam serta memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi (seperti makrifat atau kasyaf).

Kiai di dalam masyarakat Indonesia memilki posisi dan peranan tersendiri yang diberikan oleh masyarakat, karena sosial-kultur yang ada pada masyarakat Indonesia lebih condong kepada memberi penghormatan kepada orang yang lebih tua, baik dari segi umur maupun ilmu, terlebih bagi kiai yang menjadi pengasuh pondok pesantren .
Meminjam istilah Clifford Geertz, kiai merupakan makelar budaya (cultural brokers) dalam menjalankan peran ini Kia juga disebut sebagai penjaga moral (moral guardian). Kiai sebagai makelar budaya berusaha untuk selalu menjaga dan mengontrol pergerakan budaya serta adat istiadat agar tidak menjauh dari tatanan agama.

Peranan lain dari Kiai adalah sebagai pemimpin, merupakan hal yang wajar jika setiap komunitas pasti memiliki tatanan kehidupan yang butuh seorang pemimpin, dan biasanya yang menjadi pemimpin merupakan minoritas namun memilki kelebihan dari mayoritas yang dipimpin.

Menurut Sartono Kartodirjo, kepeminpinan merupakan sebuah usaha untuk mengarahkan perilaku orang lain untuk mencapai tujuannya. Dalam hal ini seorang pemimipin dituntut untuk memiliki “kelebihan” yang tidak dimilki oleh mereka yang di pimpin, karena seorang peminpin harus memiliki karisma agar perintah serta nasehatnya bisa dijalankan dan laksanakan oleh mereka yang dipimpin.

Diantara peranan Kiai dalah sebagai public solver, dalam hal ini Kiai biasanya berperan sebagai tempat untuk curhat bagi masyarakat mengenai segala dinamika kehidupan; mulai dari minta nama anak, minta air untuk pengobatan, masalah keluarga termasuk minta dicarikan jodoh, hingga masalah keuangan dan tidak jarang sebagian masyarakat berhutang uang kepada seorang Kiai.

Peran Kiai sebagai public solver lebih tepat dengan definisi Kiai itu sendiri seperti menurut versi Gus Mus yang mendefinsikan Kiai sebagai alladziina yandhurunal ummah bi ainirrohmah. Kiai selalu berusaha untuk menjadi oase bagi masyarakat dalam gersangnya kehidupan yang dipenuhi oleh hedonisme.

Dalam sejarah bangsa Indonesia peran Kiai tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini untuk merdeka dari penjajahan kafir Belanda, para Kiai pada zaman penjajahan merupakan agent of change— agen perubahan, penggerak perjuangan. Dan ini dapat kita lihat pada salah satu usaha Kiai dalam upaya pem-"bebasan"-bangsa dari penjajahan dengan lahirnya fatwa jihad yang lebih dikenal dengan sebutan resolusi jihad.

Pergeseran Peran Kiai:
Dewasa ini peran kiai mulai mengalami pergeseran, kalau dahulu “suara” kiai begitu ditaati oleh masyarakat, namun seiring bergulirnya waktu hal itu mulai terkikis meskipun belum sampai pada titik habis.

Pergeseran peran itu bukan terjadi dengan sendirinya, menurut penulis faktor tersebut dapat di kelompokkan dalam dua kelompok, pertama faktor internal dan yang kedua faktor eksternal.

Faktor internal:
Yang dimaksudkan dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari Kiai itu sendiri atau dari keluarganya.

Diantara faktor internal adalah:

1.Merosotnya Kualitas Kiai.

Merosotnya kualitas Kiai berdampak besar pada karisma yang dimiliki seorang kiai. Indikator yang bisa menujukkan penurunan kualitas Kiai adalah keilmuan dari seorang Kiai itu sendiri, penurunan keilmuan Kiai dipengaruhi oleh semangat belajar Kiai.

Kiai zaman dulu memiliki semangat tholabul ilmi yang sangat besar, banyak kita dengar cerita-cerita kegigihan Kiai ketika beliau memcari ilmu, hingga tidak jarang kita dengar beliau berjalan kaki puluhan bahkan ratusan kilometer untuk mondok dan ngaji.

Secara teori, kegigihan seseorang dalam usaha pencarian ilmu di pengaruhi oleh sarana dan prasarana, semakin lengkap dan semakin bagus sarana yang dimilki maka akan meningkatkan semangat belajar. Namun teori ini terbantahkan oleh sejarah, pada zaman penjajahan akses untuk belajar sangat sulit dan terbatas, mulai dari kitab dan penunjang belajar mengajar lainnya, namun hal itu tidak menyurutkan niat para Kiai untuk belajar, malah memompa semagat untuk bersungguh-sungguh dalam belajar.

Pada masa sekarang yang serba tercukupi, akses untuk belajar sangat gampang serta sarana penunjang sangat mudah didapat, dengan ini seharusnya mutu dari keilmuan sorang Kiai semakin meningkat, namun apa yang terjadi malah sebaliknya.

2.Adanya Kesenjangan Antara Ucapan dan Prilaku Kiai.

Kepercayaan masyarakat terhadap Kiai semakin merosot dikarenakan adanya ketidaksingkronan antara ucapan dan perbuatan, akhir-akhir ini ada sebagian “Kiai“ berucap A namun yang dikerjakan Z. Hal ini berbeda jauh dengan kondisi Kiai tempo dulu, ucapan dan perbuatan Kiai terdahulu selalu seiring, oleh karena itu beliau mendapatkan trust (kepercayaan) yang sangat tinggi dari masyarakat.

3.Tingkah Laku dari Keluarga Sebagian Kiai.

Ada sebagian keluarga Kiai yang berkelakuan tidak sesuai dengan ajaran serta tuntunan yang diberikan oleh Kiai, misalnya sang Kiai mengatakan bahwa seorang muslimah wajib menutup auratnya namun salah satu putra-putri Kiai tersebut malah memper “tontonkan“ auratnya.

Dalam hal ini masyarakat akan menilai bahwa sang Kiai telah gagal untuk mendidik putra-putrinya sendiri maka bagaimana mungkin ia akan berhasil mendidik anak orang lain?

Faktor eksternal:

1.Modernisasi.

Masyarakat Indonesia bergerak dari zaman tradisional menuju kepada zaman modern, hal ini dapat kita rasakan dari munculnya dua ciri dasar dari medernisasi, yakni: Pertama; semakin hilangnya pengaruh institusi agama. Kedua, semakin tingginya supremasi rasionalitas sains.
Modernisasi sudah merambah segala sendi kehidupan, sosial, budaya, ekonomi dan agama. Dampaknya terasa pada masyarakat Indonesia yang lebih condong untuk mengukur segala sesuatunya dengan materi.

Berkaitan dengan ini, timbul gejala di masyarakat untuk tidak mempercayai lagi barokah, sehingga budaya meminta nama anak serta minta air kepada kiai mulai luntur, masyarakat lebih senang menamai anak mereka dengan nama artis yang ngetop di televisi.

2.Politik

Dewasa ini semakin banyak Kiai yang terjun kedalam kancah politik praktis, hal ini dapat kita amati dari dua sisi yang berbeda; pertama, semakin banyaknya Kiai yang berpartisipasi dalam politik praktis diharapkan dapat mewarnai keputusan serta kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Dengan masuknya Kiai yang notabene paham agama di dalam dunia perpolitikan maka akan mengarahkan pemerintahan kearah yang lebih religius, dan sekaligus merupakan jawaban atas tantangan sekularisme yang ingin memisahkan atara agama dan Negara.

Namun pada sisi lain, berkecimpungnya Kiai dalam politik praktis menimbulkan efek negatif, diantaranya: pertama, persaingan antar kiai yang mengarah kepada permusuhan dalam rangka penggalangan suara. Kedua, money politic, tak dapat di pungkiri bahwa di dalam dunia perpolitikan tak bisa terlepas dari “biaya” politik, ketika seorang Kiai menerima “amplop“ dari seorang politikus maka pada waktu itu juga dia telah menjual institusi ke“kiaian“nya, pada tahap ini masyarakat akan menilai bahwa Kiai telah berubah dari seorang yang zuhud menjadi orang yang loba akan dunia, hal ini diperparah dengan semakin maraknya kiai yang tersandung kasus korupsi walau tak semua kasus tersebut benar, karena sangat kental aroma politik.

3.Media.

Pada zaman sekarang ini, era globalisasi yang merupakan “anak“ dari modernisasi masyarakat dapat mengakses informasi tanpa batas sehingga sekat antara ranah publik dan ranah privasi semakin tipis— kalau kita tidak mau mengatakan bahwa sekat tersebut telah hilang.

Dalam hal ini Kiai mendapat tantangan yang sangat berat dalam menjalankan perannya sebagai penjaga moral (the moral guardian). Kiai tidak bisa menutup mata akan perubahan yang terjadi di tengah tengah masyarakat.
Kiai berada dalam posisi yang sulit untuk mempertahankan budaya timur dalam menghadapi derasnya gempuran budaya barat. Kita dapat ambil contoh: sebelum tahun 2000 masyarakat kita sangat tabu dengan yang namanya hamil diluar nikah, namun sekarang hampir setiap hari atau malah tiap jam kita mendengar berita pembuangan bayi yang merupakan hasil dari hubungan diluar nikah, hal ini diperparah oleh budaya masyarakat kita yang sangat permisif, menerima budaya asing tanpa adanya penyaringan terlebih dahulu. Sebagian masyarakat merasa dirinya maju atau gaul ketika dia mengikuti budaya “barat “dengan segala atributnya.

Ketika ada seorang kiai yang menyuarakkan dengan lantang untuk menyaring budaya barat terlebih dahulu sebelum dikonsumsi maka Kiai tersebut akan dicap sebagai Kiai kolot, fumdamental, terbelakang, ndeso dan istilah lainnya karena ia telah melawan sesuatu yang mainstream.

Akhir kata:

Dengan melihat fenomena pergeseran peran kiai, sudah waktunya bagi Kiai dan calon-calon kiai untuk melakukan reorientasi terhadap peran yang akan dilaksanakan untuk kedepannya. Dan yang terpenting lagi bahwa tujuan dari hidup kita di dunia ini hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Para Kiai dan calon calon kiai sudah selayaknya untuk terus dan selalu berusaha menyelaraskan antara ucapan dan tindakannya, seraya berdoa kepada-Nya agar mendapatkan pertolongan dan kekuatan dalam perjuangan ini.

Tulisan ini ditulis bukan dengan tujuan menghakimi Kiai, namun tulisan ini ditulis semata-mata untuk mengingatkan antar sesama manusia bahwa di depan kita semua ada tantangan perubahan yang menunggu kita, dan juga untuk mengingatkan bahwa kita hidup dunia ini hanya untuk mampir berteduh.

Akhirnya, penulis menyadari dan meyakini bahwa tulisan ini jauh dari kata sempurna, masih banyak terdapat ketimpangan di sana-sini, alangkah baiknya apabila kita duduk bersama untuk mendiskusikannya dengan tujuan membedakan mana yang benar dan mana yang dianggap benar.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Tarim, 24 Januari 2016 M. dalam gelapnya malam.

*Penulis adalah Bendahara Umum PCI NU Yaman, mahasiswa tingkat IV Fakultas Syari'ah di Univ. Ahgaff, Hadromaut, Yaman.

No comments:

Post a Comment

item