DISQUS SHORTNAME

Saturday, March 12, 2016

PELEGALAN KONSEP “MAFHUM MUKHOLAFAH” SEBAGAI DALIL DALAM SYARIAT ISLAM

Jum’at11-03-2016

PELEGALAN KONSEP MAFHUM MUKHOLAFAH” SEBAGAI DALIL DALAM SYARIAT ISLAM

Reportase L
MI-NU Yaman
Diskusi Reguler “Ushul Fiqh Studies”





Tarim - Setelah melewati puncak musim dingin akhirnya pada hari Jum’at malam Sabtu11 Maret 2016 M, Lakpesdam NU Yaman kembali menggelar diskusi “Ushul Fiqh Studies” untuk yang ketiga kalinya. Kajian reguler yang dicanangkan akan terlaksana setiap dwi-pekanan ini, bertempat di mushola apartemen mahasiswa fakultas Syariah dan Hukum Universitas al-Ahgaff. Acara yang dimulai pukul 20.30 KSA itu dapat terlaksana dengan baik, hal ini ditandai dengan banyaknya jumlah peserta yang hadir dan antusias.

Pada diskusi sebelumnya dengan pemateri Muhammad Anas, beliau mengkaji seputar pembahasan tentang “Eksistensi Dalil” (islamic argument)mengungkap betapa variatifnya interpretasi dan cara mengekspresikan dalil versi para filsosof, ahli teologi dan mayoritas teorisi hukum Islam (Ushuliyyun).


Dan pada kesempatan ketiga ini, setelah melewati proses rembuk dengan beberapa pihak, pada kali ini pemateri menjadikan kitab “Bulughul Ma’mul, salah satu karya monumental dari Dr. Amjad Rosyied, Kepala Departemen  Fiqh dan Ushul Fiqh Universitas al-Ahgaff sebagai materi primer dan obyek diskusi.

Dalam diskusi yang berlokasi di mushalla lantai I apartemensakan dakhiley, itu tampil sebagai pemateri Hidayatul Fadhlimahasiswa tingkat II Fakultas Syari’ah, Universitas al-Ahgaff, asal Lombok. Sedangkan moderator dipercayakan kepada M. Luqman Chakiemmahasiswa tingkat II Fakultas Syari’ah asal Wonosobo.

Acara dimulai sekitar jam 20.3KSA. Di hadapan para peserta diskusi, pemateri memulai paparannya. Ia memulai pembahasannya dengan mendefinisikan 3 poin utama dalam diskusi kali ini yaitu manthuq, mafhum muwafaqoh dan mafhum mukholafah. Baik secara etimologi maupun secara terminologi. Kalimat demi kalimat ia definisi dan deskripsikan dengan logat khas Lombok-nya yang berhasil membuat suasana tegang mushalla menjadi lebih santai dan berwarna.

Kemudian iapun mengemukakan pembahasan yang paling menarik –menurutnya- untuk didiskusikan malam ini adalah tentang khilaf yang terjadi antara sekian banyak sarjana Ushul Fiqh dalam menentukan bahwa apakah “Dalalah terhadap mafhum muwafaqoh adalah mafhumiyyah, qiyasiyyah atau lafzhiyyah?”. Sebagaimana diamini oleh banyak sarjana Ushul Fiqh sebelumnya termasuk SYIZAN yaitu Syeikh Zakariya al-Anshorie, yang menyatakan bahwa Dalalah terhadap mafhum muwafaqoh adalah mafhumiyyah, yaitu dengan cara memahami teks yang ada hingga muncullah sebuah hukum yang tersirat dari teks tersebut”.

Ia juga mengangkat satu pembahasan lain yang tidak kalah menarik untuk dibidik, yaitu tentang khilaf yang terjadi di dalam “Pelegalan konsep mafhum mukholafah sebagai dalil dalam syariat Islam”.

Singkat kata ia menyimpulkan bahwa konsep mafhum mukholafah dapat dijadikan sebagai dalil dan hujjah dalam istinbath sebuah hukum dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, imbuhnya. Iapun mengakhiri presentasinya dalam waktu singkat yang berkisar sekitar 45 menit.

Beranjak ke termin berikutnya, yaitu sesi kritik seputar penjelasan pemateri terkait redaksi Bulughul Ma’mul, yang kemudian akan didialogkan bersama. Tampak beberapa peserta diskusi begitu antusias menyambut termin ini. Muncul kritik pertama dari Kang Bayu Maulana, mahasiswa tingkat II fakultas Syari’ah asal Kota Pontianak tentang pembahasan “dalalah iqtidho’’ yang mengerucut kepada pengkritikan terhadap keterangan pemateri di dalam memaknai istilah “shidqul mantuq” dengan makna “shidqul mutakallim”. Menurutnya, -dengan merever ke kitab “Manahij Dzawil ‘Uqul fi ‘Ilmil Ushul”- istilah shidqul mantuq” tidaklah begitu sesuai jika diletakkan dalam makna “shidqul mutakallim” melainkan yang lebih cocok baginya bila diartikan dengan makna “shidqul kalam”. Alasannya, “sebuah kalam khobari, neraca ukur untuk menimbang sisi kebenaran ataupun kebohongannya adalah dengan meninjau kepada sisi dzatil khobar itu sendiri, bukan kepada sang mutakallim.

Beragam jawaban beserta apologi muncul dari sana-sini, termasuk dari pemateri dan semuanya bermuara pada satu lokus yang sama. Intinya, dari kedua belah kubu masih mempertahankan argumen mereka masing-masing dan yang pasti, juga dengan merever ke beberapa kitab-kitab klasik maupun yang kontemporer.

Diskusi berlanjut, termin pertanyaan pun dilanjutkanAdalah Sy. Abdul Qodir As-Segaf, mahasiswa tingkat II jurusan Syari’ah asal Jakarta meminta penegasan tentang titik tajam perbedaan antara “dalalah mafhumiyyah dan dalalah qiyasiyyah terhadap sebuah mafhum muwafaqoh”.

Dengan merever ke beberapa kitab klasik dan kontemporer, pemateri pun mengambil kesimpulan bahwa khilaf yang terjadi pada kasus ini adalah khilaf ma’nawi. Karena, apabila kita mengambil pendapat yang pertama, dalalah mafhumiyyah, maka konsep mafhum muwafaqoh akan memunculkan sebuah hukum yang sangat kuat. Beda halnya dengan pendapat kedua, dalalah qiyasiyyah, maka hukum yang dimunculkan pun lebih lemah.


Suasana diskusi semakin malam kian menghangat dengan benturan argument-argumen yang sulit terpatahkan, seakan mengalahkan temperatur udara Tarim yang sudah memasuki musim panas. Diakhiri dengan pertanyaan terakhir dari Mas Midad, mahasiswa tingkat II jurusan Syari’ah asal kota Cilacap tentang penerapan dalalah mafhumiyyah dan dalalah qiyasiyyah terhadap lafazh. 

Dan tak terasa dua jam telah berlalu, jam menunjukkan angka 23.00 pertanda waktu diskusi selesai. Sukses selalu buat Lakpesdam Yaman, semoga kegiatan-kegiatan ilmiah di dalamnya terus istiqomah, berkembang dan menggema. 

(BM/LMI-NU Yaman)

5 comments:

  1. Main silaturrahmi

    http://lbmnulampung.blogspot.co.id/2016/02/kearifan-tradisi-membuka-dan-menutup.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih banyak atas kunjungan nya, salam ta"dlim

      Delete
  2. Terus semangat...? desain diperbaikin

    ReplyDelete
  3. Ya, Kami terus akan berbenah, mohon terus dukungannya, untuk semua Kunjungi kami terus ya...

    ReplyDelete

item